Langsung ke konten utama

Jingga Warna

Namanya Dira, gadis kecil yang terlahir disaat suasana keluarganya gembira. Bagaimana tidak, sebelum Dira lahir orang tuanya menunggu kehadirannya selama 5 tahun. Itu jarak usianya dengan sang kakak, Dito namanya. Sebelum adanya Dito orang tuanya juga menunggu selama 2 tahun. Jarak usia yang menurut hitungan manusia pasti lama, tapi tidak dengan rencana Tuhan. 

Dira kecil hidup dengan penuh kebahagiaan. Orang tuanya berusaha memberikan perhatian adil antara dia dan sang kakak. Sebagai anak kedua dari kakak laki laki, Dira sangan disanyang kakaknya. Bahkan tanggal lahir sang adik selalu menjadi momen spesial untuk memberi hadiah. Akan tetapi keadaan yang membuat mereka tidak bisa tumbuh bersama. Sang ibu harus bekerja diluar kota, Dira ikut dengan ibu dan Dito bersama bapak. Ada momen seminggu bahkan sebulan sekali mereka berkumpul bersama. 

Setiap kali bapak dan Dito akan datang, hari itu pula menjadi hari yang spesial. Sang ibu masak enak, Dira bebas jajan apapun yang dia mau dan yang akan diberikan ke kakaknya. Momen itu hanya terjadi beberapa kali dalam sebulan tapi selalu menjadi momen berharga. Sekalipun tidak selalu bersama, tetapi keluarga ini terasa utuh. Saling melengkapi dengan kekurangan yang ada. Tak lupa bapak juga selalu membawa jajan spesial request dari Dira. 

Kebahagiaan keluarga kecil ini kembali bertambah, ketika selang du tahun dari kelahiran Dira hadir lagi sosok kecil nan menggemaskan. Dio namanya, anak ketiga pelengkap keluarga kecil ini. Kehadiran Dio menjadi pelengkap yang tidak disangka, karna memang ibu dan bapak merasa cukup dengan dianugrahi sepasang namun Tuhan berkata satu lagi agar lebih lengkap. Dio kecil tumbuh bersamaan dengan Dira, karna usianya yang tidak terpaut jauh, hanya 2 tahun. Berbeda dengan Dito yang jarak usianya cukup jauh. Seperti layaknya anak kembar, semua harus sama hanya beda warna. 

Tiga bersaudara ini tumbuh dengan saling melengkapi. Dito yang memilih besar dengan bapak, menjalani peran sebagai kakak dengan penuh keterbatasan tanpa ibu disampingnya. Begitu pula Dira dan Dio yang tumbuh tanpa bapak. Namun justru ini letak keistimewaan keluarga ini, mereka akan saling memupuk rindu untuk nantinya disampaikan satu sama lain ketika bertemu. Saat bertemu itulah menjadi momen tanpa adanya drama. 

Ibu berusaha adil dengan ketiganya, memberikan perhatian kepada Dira dan Dio dengan cukup begitupun dengan Dito yang hanya busa dipantau lewat sambungan seluler. Begitupun bapak, menjalankan peran ibu untuk Dito dan belajar banyak hal perihal rumah. Sampai akhirnya bapak dengan mudah mengenal bumbu masakan dan pewangi deterjen. Hal yang sulit untuk dibayangkan lelaki seusianya. Ibu juga biasa mengganti lampu kamar sendiri bahkan sudah hafal bebagai penerangan baik yang harganya terjangkau atau lebih mahal dengan klaim lebih awet. 

Ketiganya tumbuh dengan pintar dan baik. Sampai ditahun Dito akhirnya kuliah dan Dira menginginkan sekolah yang dekat dengan bapaknya. Namun ibu berat hati untuk melepas karna Dira anak perempuan satu satunya. Takut bapak kurang memberikan perhatian karna sifat perempuan yang istimewa. Sampai akhirnya Dira mengalah dan melanjutnya sekolah masih dekat ibu. Selang berapa tahun Dito lulus dengan nilai yang luar biasa memuaskan. Semua gembira. 

Dira dan Dio juga sudah berada di jenjang sekolah baru. Akhirnya dengan banyak pertimbangan ibu memilih mereka untuk sekolah dekat dengan bapaknya. Karna memang rumah mereka disana dan ibu hanyak menumpang untuk bekerja. Toh tidak lama lagi akan pensiun dan kembali ke rumah juga, begitu pikir ibu saat itu. Dira dan Dio menjalani hari dengan suasana baru dan lingkungan baru, walaupun itu rumah bahkan akan terasa asing karna jarang berada disitu. Dito akhirnya memilih bekerja diluar kota. 

Kehidupan berjalan lancar dan seperti seharusnya. Ibu akan pulang setiap seminggu sekali, menyempatkan waktu bersama untuk sekedar jalan jalan dan bercerita. Menelfon Dito tiap weekend bahkan sampai berjam jam lamanya. Kini waktu mereka bersama lebih mana, bapak ibu lebih sering menghabiskan waktu berdua. Sangat berharga karna hal ini yang mereka perjuangan sejak lama. Dito pulang setahun sekali karna hanya jika mengambil cuti ia bisa berkumpul. Tapi tak apa, momen berlima akan selalu berharga seperti tahun tahun sebelumnya. 

Sampai dititik berita itu tiba. Hari yang sangat tidak disangka akan datang secepat itu. Ibu kecelakaan, dan menghembuskan nafas terakhir saat itu juga. Saat dimana keadaan keluarga ini tenang dan bisa menghabiskan banyak waktu bersama. Ibu pergi bahkan disaat anak anaknya belum sempat mengucapkan kata perpisahan. Bahkan dua hari sebelumnya mereka masih bersama. Masih menyempatkan untuk tidur berempat dan saling berpelukan. Pelukan yang hangat yang dirasakan Dira. Hingga ia lupa bahwa itu pelukan terakhir dari ibu. 

Bapak termenung, seakan dunianya berhenti saat itu juga. Tapi bapak tidak bisa terlalu lama begini, ada Dira dan Dio yang juga perlu ditenangkan. Bapak peluk keduanya dan berkata semua akan baik baik saja. Tidak lama bapak menelfon Dito, menyuruhnya segera pulang. Berdalih ada masalah dirumah tapi tak lama bapak tidak bisa membendung perasaannya dan berkata yang sebenarnya. Terdengar teriakan dari seberang telfon, pertanda Dito tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Malam itu juga dia pulang. 

Selang beberapa jam Dito sampai dirumah, ibu sudah menunggu. Semua tidak bisa menahan air mata, pun Dira dan Dio yang terus menetes. Tidak lama ibu disemayamkan, keadaan rumah jadi hening. Tidak lagi terdengar suara ibu yang menyuruh mereka makan. Tidak lagi terdengar ocehan ibu yang sebal karna Dio susah tidur siang. Tak lagi terdengar keluhan ibu yang binggung dengan fitur handphone yang banyak. Rumah jadi terasa asing. 

Matahari itu telah hilang. Tak lagi terlihat cahayanya, semua terasa redup dan samar. Dingin menyelimuti keluarga ini. Dito bapak dan Dio terus menyemangati Dira yang selau saja menangis. Membayangkan ia melalui harinya tanpa perempuang lain sebagai figur hidupnya. Dunianya seakan runtuh dan hilang arah, sebagian hatinya hilang. Semua akan terlewati semua akan melalui sembuh dengan sendirinya. Seiring berjalannya waktu kini hanya warna samar yang ada. Dira yang akan selalu menjadi jingga untuk warna ini. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

New Life, New Roles

Tepat beberapa tahun lalu aku memutuskan menikah. Satu langkah besar yang dijalani dan membuatku bersyukur sampai saat ini. Menikah membuka cara pandangku dalam banyak hal. Melihat dunia lebih luas dan dengan sudut pandang bersama pasangan. Tidak selalu sejalan namun berupaya menyamakan irama agar sepadan. Ibarat perahu dan dayung, berjalan menuju tujuan yang sama bukan saling mendahului.  Mungkin belum banyak yang bisa dicerikan kehidupan menjadi ibu, karena setelah menikah qadarullah belum Allah amanahkan buah hati. Tetapi menjadi istri yang baik merupakan salah satu langkah menuju ibu yang baik juga Insyaallah . Tahap menjadi ibu merupakan peran besar dan sangat berarti, menjadikan diri sendiri role model anak dan apapun yang dia dapatkan pertama kali pasti dari ibu dan ayahnya. Mencoba menata diri untuk belajar lebih baik dengan menjalankan peran istri yang terbaik sebelum nantinya jadi ibu. Mengurus suami memang berbeda dengan mengurus anak, tapi kita bisa belajar bahwasanny...

Pola Pikir Kita, ya punya kitalah

Pola pikir kita, ya punya kita lah Pernah nggk sih kita tuh kayak overthingking gitu. Pernah lah yaa, sering pastinya. Walaupun memang kata banyak orang overthinking itu nggak baik, berawal dari kata over nya ya, sesuatu yang berlebihan kan pasti nggk baik kan. Cukup secukupnya aja gitu baiknya yaa. Tapi perihal thinking, tetep harus dong. Yakali bertindak tanpa berfikir yakan. Hidup memang harus begitu kan, berjalan seimbang dan berjalan beriringan. Tetapi mungkin sekali waktu berpikir agak berat tidak apa apa sih. Maksudku begini, kadang ada satu dua hal yang memang harus kita pikirkan dalam dalam. Terlebih untuk sebagain orang yang agak sulit dalam mengambil keputusan cepat. Sesuatu dipikirkan dalam dalam dulu sebelum benar-benar diputuskan. Terkadang sesuatu yang terburu-buru juga agak tidak baik kan. Ada juga satu dari yang lain yang bisa cepat mengambil kesempatan yang ada. Alasan yang dia pegang, ambil dulu kesempatan tidak berulang. Memang betul nggk ada yang salah dari keduany...

Menunggu

Satu kata yang tidak semua orang bisa laluin prosesnya adalah menunggu. Karna kita nggak benar-benar tau seberapa lama proses ini akan dilalui. Qadarullah aku harus berjalan dengan proses ini dalam hal menjemput buah hati. Proses menunggu selama menjadi pejuang dua garis ternyata seberat ini. Tapi Allah jadikan kita untuk mampu melewati proses ini. Proses yang panjang dan penuh jatuh bangun.  Tiga tahun menjadi pejuang garis dua menjadikan kita banyak belajar bahwa hidup sejatinya memang bukan kuasa kita. Sebaik baiknya kita berjuang dan ikhtiar kalau Allah belum kasih jalan semua akan terasa sia-sia. Yap sia-sia menurut kita bukan menurut Allah. Banyak hal Allah tunda dalam hidup kita untuk memberikan yang terbaik. Disaat yang baik dalam keadaan baik dan dalam bentuk yang terbaik. Mungkin kita terlalu egois merasa diri ini mampu untuk cepat seperti yang lain, padahal itu hanya inginnya manusia. Manusia dengan pola pikirnya yang dangkal, pola pikir yang hanya seluas apa yang dia ba...