Culture Shock di Indonesia Timur

Culture Shock di Indonesia Timur


Setelah menikah Allah beri rencana yang tak terduga, tiba-tiba pindah ke Indonesia bagian Timur cuy. Yap pindah ke Daruba, Kepulauan Morotai, Maluku Utara. Tiba di Morotai hal pertama yang dirasakan yaitu panas. Entah karna letaknya yang kepulauan atau memang cuaca hari itu memang sedang panas. Memulai hidup baru di Morotai seperti mereset kembali hidup mulai dari 0. Meraba keadaan sekitar, mengenal hal baru, terbiasa dengan budaya baru. Seperti menjadi tantangan tersendiri, dimana posisi adaptasinya hanya berdua dengan suami. Satu-satunya orang yang dikenal ya hanya suami. Mari kita mulai perjalanan ini. 


Awal sampai morotai sudah harus terbiasa dengan perbedaan waktu yang sangat jauh berbeda dengan di Jawa. Karena letaknya di Indonesia Timur menjadikan Morotai memiliki perbedaan waktu 2 jam lebih cepat dibanding Jawa. Beberapa kali sering lupa mengingat waktu, ternyata sudah siang saja. Jetlag tentunya juga dirasakan, pukul 5 pagi waktu Morotai sudah harus bangun untuk sholat subuh sedangkan di Jawa masih pukul 3 pagi. Pukul 11 malam tidak kunjung tertidur karena di Jawa masih pukul 9 malam. Begitupun ketika balik ke Jawa, badan seakan dipaksa untuk beradaptasi dengan cepat. 


Kembali beradaptasi dengan kebutuhan pokok di Morotai. Pagi itu diawali dengan berbelanja ke pasar. Harga sayuran bisa dikatakan 2 kali lipat di Jawa dengan pasokan yang tidak menentu. Pasokan sayuran biasanya dikirim dari Manado dengan menggunakan kapal. Pasokan sayuran biasanya untuk beberapa kios/warung. Jadi ketika tidak ada kapal datang dari Manado karena terkendala cuaca, pasokan sayuran di sebagian kios juga tertunda. Letak Morotai yang berada di kepulauan menjadikan Morotai hanya mengandalkan pasokan sayuran dari daerah lain. Begitupun dengan buah, harga buah di Morotai cenderung mahal. Kebanyakan dijual perbiji, satu biji apel bisa diharga 20 ribu, untuk buah naga 20-25 ribu tergantung besar kecilnya. Untuk buah lainnya seperti anggur, ahh saya tidak kuat bertanya harga anggur. Jadi tinggal di Morotai harus lebih pintar mengatur pengeluaran kebutuhan sehari hari. 


Uang koin di Morotai tidak berlaku. Yap sebagian besar masyarakat Morotai tidak menggunakan pecahan koin untuk transaksi sehari hari. jadi semua harga sudah dibulatkan menjadi puluhan. Harga jajanan anak kecil paling murah ya 1 ribu rupiah. Permen bisa dibeli 3 biji seharga 1 ribu rupiah. Bahkan uang koin 1 ribu rupiah tetap tidak berlaku di Morotai. Masyarakat Morotai tidak mengenal transaksi dengan menggunakan uang koin. Entah karna nilainya terlalu kecil atau memang sudah kebiasaan dari dulu seperti itu. Ketikan sampai Morotai uang koin jadi menumpuk banyak tidak terpakai. 


Menari dan bernyanyi adalah kebiasaan yang cukup populer di Morotai. Hampir disetiap cafe pasti disediakan tempat untuk bernyanyi, siapapun bebas untuk menyumbangkan suaranya sembari menghibur pengunjung cafe. Herannya hampir semua yang berani bernyanyi suaranya pasti oke, minimal tidak meleset dari nada. Enggak heran kalau sebagian penyanyi yang terkenal berasal dari Indonesia Timur. Selain bernyanyi, masyarakat Morotai juga senang menari atau orang sini menyebutnya baronggeng. Hampir disetiap acara, apapun acaranya pasti ditutup dengan baronggeng. Enjoy your life, nggk peduli seberat apa hidup menimpamu menari adalah jalan ninjaku. 

Komentar

Postingan Populer