Satu Tahun :)
Satu Tahun
Satu tahun lalu, aku masih ingat betul saat terakhir kamu tersenyum kepadaku. Bibirmu yang manis ditambah sedikit tahi lalat di ujung kiri dagu menambah aura mu. Kamu bilang kepadaku bahwa kita akan tetep sama sama, walaupun kamu juga belum bisa memastikan kepadaku sampai kapan bersama, tapi kamu tetep meyakinkanku bahwa ini akan lama. Kamu duduk didepanku dan menggenggam tangan ku santai, mencoba meyakinkan bahwa aku adalah satu satunya wanita paling beruntung karena mendapatkannya. Aku tertawa sesaat setelah itu, “kamu terlalu percaya diri” kataku. Dia memang sosok terbaik saat itu, menjadikan aku prioritas dalam segala kesibukannya. Walaupun aku tau pekerjaannyalah tetap yang paling utama, karena kita nggak akan kenyang kan kalau hanya makan cinta.
Setahun yang lalu kita masih bisa saling menyapa dengan panggilan unik menurutku. Bahkan kamu tindak memanggilku sayang, beb, yang atau panggilan untuk pacar lainnya. Melainkan kamu dengan seenaknya panggila aku bibu dan memaksaku memanggilmu bubi. Asli ini panggilan aneh yang baru pertama kudengar, tetapi kamu tetap ingin di panggil itu. Setahun yang lalu kamu masih sering mengantarku berangkat kerja, walaupun jarak tempat kerja kita jauh. Kamu bangun pagi agar bisa berbelok ke utara menjemputku padahal rumahmu di selatan, pekerjaanmu di barat sedangkan aku di timur. Rumit ya hidup ternyata. Tetapi kamu tetep bersikeras menjemput ku, katamu “tak apa aku yang kerepotan, dari pada kamu yang kelelahan”. Tetapi sekrang aku jadi tidak bisa tanpa kamu “sial”.
Aku ingat betul saat pertama kali
kamu mencoba dekat denganku. Padahal kita pernah satu kelas saat kuliah namun
itu hanya satu mata kuliah, entah kamu mengingatnya atau tidak. Tetapi mungkin
takdir belum berpihak pada kita saat itu. Kita malah dipertemukan saat sudah
akhir akhir lulus. Waktu itu aku sedang ada di tempat fotocopyan dekat kampus,
aku sedang kerepotan membawa semua kertas2 skripsiku dan mencoba menata setiap
halamanya. Ditengah kerepotanku ada satu halaman terselip, aku marah marah
kepada mas fotocopyan tapi ternyata kertas halaman itu masuk ke dalam tumpukan
kertasmu. Kamu segera menggembalikan sebelum mas mas fotocopyan itu habis aku
kata kata in. Aku langsung berterima kasih dan cabut pergi. Mungkin dari situ
kamu mulai tertarik padaku, mungkin ini hanya spekulasiku saja karena memang
belum pernah aku tanyakan langsung kepadamu.
Selang beberapa hari kemudian aku
sidang, ditengah keramaian teman temanku meminta foto dan memeberiku bungan
dateng sosok kamu yang tiba tiba saja mengajakku berkenalan dan memeberikan
sebuket bungan mawar merah berjumlah 5 biji dengan tulisan tangan rapi di ujung
tangkainya.
“ini buatku, tapi kita baru kenal”
tanyaku heran.
“iya tentu buat kamu sebagai
permintaan maaf, mungkin saja kalau kertas halaman itu tidak terselip di tumpukan
kertasku kamu bisa sidang lebih cepat dari hari ini. Dan tentu saja tidak perlu
ngomel ngomel dengan mas fotocopy” katanya menjelaskan.
Aku mulai menerimanya dan tersipu
malu, haruskan aku berteriak sekencang kencangnya hari ini. Sungguh manis sekali
perlakuanmu saat ini.
Semenjak saat itu kita mulai lebih
dekat. Ruang dekan fakultas ku yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tata
usaha fakultasnya membuat kita sellau menghabiskan waktu bersama untuk sekedar
menunggu dekan atau meminta tanda tangan di ruang tata usaha. Beberapa bulan
berikutnya juga akhirnya kita wisuda bersama.
“cita citaku tercapai saat ini”
bisiskku kepadanya.
“memang apa yang lebih kamu
inginkan dari lulus tepat waktu dan membanggakan orang tua” tanyanya heran.
“aku ingin ada pendamping wisuda
yang sangat aku sayangi, dan itu kamu” jelasku kepadanya.
Dia mulai tersenyum tipis dan
menggengam tanganku, “ayok aku kenalkan bapak ibu, selanjutnya kita bertemu
bapak ibu kamu”. Aku mengangguk pelan, padahal dalam hati ingin sekali
berteriak keras.
Sampai akhirnya kita mulai
disibukkan dengan pekerjaan masing masing. Kita mulai merencanakan kehidupan
kedepan. “kamu bekerja saja untuk kebahagiaanmu dan orang tua mu, tidak perlu
terbebani dengan rencana kita. Biarkan aku saja yang bekerja lebih keras.
Tugasmu hanya menyemangatiku dan tidak berhenti mendoakanku” katanya setiap
kali aku mau mencoba menyisihkan penghasilanku untuk dimasukkan di tabungan
bersama. Kamu memang sosok pekerja keras dan tentu saja keras kepala. Saking
kerasnya sampai sering lupa makan,
“kenapa tidak pernah sarapan sih
kalau pagi, lambungmu loh kasihan. Kamunya mah gapapa” omel ku tiap pagi sambil
memasukkan bekal makanan kedelam tasnya.
“kamu tahu kenapa aku begitu?”
tanyanya.
“memang kenapa selain kamu mau
jahat dengan lambungmu sendiri”.
“aku ingin selalu makan saraoan
darimu, walaupun kamu membuatnya dengan omelan tetapi tetap ini paling nikmat
buatku”.
“halah mulai deh gombal deh. Besok
kukasih nasi kecap saja ya” kataku meledek.
“tak apa itu pun sudah manis,
karena kamu yang buat”.
“kecap kan memang manis bibu”
Tetapi semesta sepertinya tidak
lama brpihak kepada kita. Kamu yang dulu manis. Kamu yang dulu selalu ada
didekatku sekrang dijauhkan sejauh mungkin. Aku yang sudah terbiasa denganmu
mulai kesulitan melanjutkan hari. Kala itu waktu terakhir kamu hanya berpamitan
untuk pergi sejenak melanjutkan projek pekerjaan. Aku iyakan karena memang
tugasmu seperti itu. Kamu duduk diteras rumahku cukup lama, aku menyuruhmu
masuk tetapi kamu bilang tidak disini saja, aku terburu buru nanum tetap ingin
melihatmu. Kamu membawakan sekotas salad buah dan macha matte kesukaanmu.
“kenapa machat latte yang kamu
bawa, padahal kamu tau aku suka red velvet” protesku ketika kamu datang.
“agar kamu juga mencoba menikmati
matcha latte kesukaanku, kan kita akan satu. Kesukaanku tentu kesukaanmu juga,
begitu sebaliknya” jelasnya kala itu.
Ternyata saat itu adalah saat
terakhir dia mengenggam tanganku. Aku sekrang tau kenapa kamu membawkaan matcha
latte bukan red velvet. Agar aku bisa merasakan kesukaanmu juga kan ketikan
kamu sudah tidak bisa merasakannya lagi.
Pukul 7 pagi setelah sore kemaren
kamu berpamitan denganku aku mendengar kabar kecelakaanmu. Kamu masih bisa
sadar saat itu tetapi selang beberapa hari kamu menyerah akan rasa sakit itu.
Aku tau ini berat untukmu apalgi untukku. Kamu sudah berjuang sampai akhir
sampai kamu sudah tidak kuat lagi untuk berjuang. Aku ikhlaskan kepergianmu
dengan senyum. Karena aku tau kamu pasti akan marah ketika aku sedih, ketika
aku meneteskan air mata untukmu. Tapi sayangnya kamu belum berpamitan dengaku.
Sejak kejadian itu kamu koma sampai akhirnya memilih pergi. Aku tau kamu
berjuang, aku tau kamu berusaha keras namun tuhan lebih menyanyangiku dibading
rasa sayangku kepadamu.
Setahun sudah aku tanpa kamu.
Banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu. Aku sekrang jauh lebih mandiri,
aku bisa mengendarai moto sendiri bahkan dari selatan utara barat timur. Aku
sudah tidak buta arah bahkan lebih jaga dalam membaca map. Kamu pasti bangga
denganku saat ini, aku tidak akan ngomel ngomel lagi ketika mapnya tidak mau
berjalan sesuai arah motor kita padahal disitu hanya aku saja yang tidak bisa
membacanya. Sekrang aku sudah bisa memasak lebih banyak menu, kamu tidak akan
protes ketika sarapan hanya dengan itu itu saja. Kali ini jauh bisa bervariasi,
aku sudah banyak belajar tentang itu. Tetapi aku saat ini juga bisa jauh lebih
baik baik saja dibanding setahun yang lalu. Kamu mengajarkanku banyak hal.
Terima kasih untuk itu.
Kali ini aku hanya bisa tersenyum
setiap membaca pesan singkat darimu. Kamu yang selalu terima ketika aku ngomel
dimanapun, bahkan hanya berkata “sudah, cukup yah. Sekrang makan, ntar keburu
dingin”. Sesimpel pesan singkatmu yang selalu mengabariku setiap ingin pergi,
“aku pergi dulu ya”
“udah gitu aja”
“ aku pergi dulu sayang”
“ nah iyaa begituu, jangan lupa
makan”
“iya nanti”
“kok cuman gini”
“iya nanti sayang”.
Kamu yang selalu hadir dalam
mimpiku beberapa hari ini belakangan ini. Mungkin kamu rindu, akupun begitu.
Aku selalu tersenyum ketika melihatmu dan akupun tahu kamu pasti begitu. Kamu
datang dalam kejauhan aku tiudak bisa menembak dirimu dalam samar smaar tapi
aku yakin itu kamu. Bahkan aku berusaha selalu tersenyum ketika melihatmu dalam
foto, karena aku tau kamu tidak ingin aku menangis kan.
Saat ini aku yang sekarang sudah
mulai baik baik saja. Aku berdamai dengan keadaan, aku tersenyum atas semua
apapun yang aku terima dalam hidupmu. Terimakasih tuhan telat bersedia
mempertemukan aku dengan makhluknya yang sangat baik. Kebaikkannya melebihi
apapun. Oh ya soal uang tabungan kita dimasa depan, aku sepenuhnya serahkan
kepada orang tuamu. Aku tidak berhak untuk itu. Terima kasih kamu sudah singgah
dihidupku, menjadikan aku pribadi lebih baik dalam setiap harinya. Setahun ini
aku belajar bhawa mengikhlaskan bukan berarti melupakan. Mengihklaskan bukan
berarti menggantikan. Kamu tetap akan ada dalam hatiku tetap akan manjadi
kenangan manisku. Semoga aku dan kamu baik baik saja.

Komentar
Posting Komentar