Telur Ceplok Bapak
Telur Ceplok Bapak
Pagi itu aku sedang bergegas
berangkat ke sekolah. Tidak seperti biasanya pagi ini aku mulai berangkat
sekolah tanpa sarapan dari ibu. Ya mulai sekarang aku tinggal dengan bapak,
memulai segala ceritaku dengan bapak, untuk urusan apapun aku sudah harus
terbiasa dengan bapak. Dari lahir hingga usiaku 15 tahun aku tinggal dengan
ibu, namun mulai sekarang keadaan berbalik. Aku harus terbiasa dengan bapak,
padahal tinggal dan hidup dengan bapak pun jarang kurasakan sebelumnya.
Bukan, bukan berarti bapak dan
ibu ku berpisah. Namun karena keadaan yang membuatku harus hidup terpisah
dengan keduanya. Memang aneh, memang beda dengan keluarga lainnya, namun aku
tidak pernah merasakan sedih sedikitpun. Hal ini mungkin karena bapak dan ibuku
pintar memainkan peran agar kita anak-anaknya tidak kehilangan salah satu sosok
mereka, walaupun sepintarpintarnya mereka bermain peran tetap sosok sebenernya
dari mereka terkadang kami butuhkan. Ibuku adalah seorang guru SD negeri
disalah satu kota di lereng gunung sumbing sedang aku dan keluargaku tinggal,
besar dan menetap di kota pelajar. Jadi hal inilah yang membuat keluarga kita
harus hidup berjauhan. Bapak tinggal dengan kakakku sedangkan aku tinggal
dengan ibu dan adekku.
Dari sejak bayi hingga aku
memiliki adek, aku tinggal dan besar di kota lereng sumbing ini dengan hanya
ibu dan beberapa mbak yang sering menemaniku dan ibu hingga aku menginjak kelas
6 SD. Kenapa bapak tidak ikut dengan ibu? Ya karena kami memiliki rumah di kota
pelajar ini yang tidak mungkin ditinggalkan waktu itu juga bapak masih bekerja
didalah satu perusahaan di sini, jadi dengan berat hati mereka memilih hubungan
jarak jauh. Sebulan sekali bapak dan kakakku menengok kita dan menginap
semalam. Sehingga bisa dibayangkan memori masa kecilku dengan kakak ku amat
sangat sedikit, terkadang aku merindukan hal itu.
Aku tinggal dengan ibu dan adekku
laki laki. Kita hidup bertiga dengan segala keterbatasannya. Apapun yang aku
butuhkan hanya dengan ibu, mungkin waktu itu aku kekurangan sosok bapak namun
tak begitu aku rasakan. Aku terbiasa melihat peran bapak tergantikan oleh ibu,
seperti mengganti bohlam lampu, memperbaiki pipi pralon bahkan memperbaiki
pintu rusak. Namun tak pernah sekalipun aku melihat ibu mengeluh akan
keadaannya. Bahkan sering kali ibu menasehatiku untuk selalu bersyukur dengan
keadaan apapun kita saat ini. Masih bisa sehat dan makan enak adalah nikmat
luar biasa.
Namun kini setelah menginjak
bangku SMA aku memilih melanjutkan di kota pelajar, rumahku sesungguhnya. Aku masuk
SMA sedangka adekku masuk SMP, kita sama smaa melajutkan di kota kelahiran kami
dan tanpa kita sadari kita meninggalka ibu sendiri. Aku mulai harus terbiasa
hidup tanpa ibu tergantikan dengan bapak. Bapak mulai mememrankan sosok ibu,
mencuci baju, menyetrika, memasak bahkan berbelanja ke pasar. Ibu jadi sesekali
pulang kesini seminggu sekali, minggu sore ibu pulang senin pagi berangkat lagi
dengan bus antar kota. Aku pernah bertanya pada ibu
“Apa ibu akan seterusnya seperti
ini, apa ibu tidak lelah bu?” tanyaku sesampainya ibu dirumah Sabtu sore itu.
“Ibu akan tetap pulang, kalau
tidak pulang ibu rindu anak dan suami, ibu nggak capek, terbayar dengan melihat
kalian dalam keadaan sehat dan bahagia” jawab ibu menenangkan. Aku langsung
memeluk ibu lebih dalam.
Sejak saat ini hidupku bergantung
dengan bapak, sudah bukan lagi ibu. Aku sudah harus mulai beradaptasi dan terbiasa
dengan keadaan baru ini. Ya memang baru menggantikan sosok ibu yang sekarang
berubah jadi bapak. Aku yang sedang siap siap didalam kamar tiba-tiba mendengar
ketokan pintu kamar.
“Nok telurnya mau ceplok apa
dadar?” tanya bapak dari balik pintu.
“Padahal tiap pagi ibu langsung
membuatkan tanpa harus bertanya” batin ku tanpa kuat mengucapkan. “Ceplok pak
biasanya, telur ceplok mata sapi, kuningnya jangan sampai pecah” kataku
menjawab tanya bapak
“Njuk ngasih garam e gimana nek
gituu nok, kan susah nyampurnya” tanya bapak lagi sedikit binggung
“Ditabur diatasnya pak, sedikit
aja jangan terlalu banyak” jawabku agak sedikit kesal waktu itu.
“Oke bapak gorengkan dulu, gek
cepet siap siapnya sudah siang ini” perintah bapak lagi.
Selain telur ceplok bapak juga
pandai memasak walaupun dengan bumbu seadanya namun rasanya lumayan nikmat
setidaknya bisa mengobati rasa laparku saat itu. Sayur andalan bapak adalah
sayur bobor daun singkong dan tempe goreng, hampir sering bapak emmasak sayur
itu. Aku bertemu dengan ibu seminggu sekali, sabtu sore adalah hari paling
menyenangkan untukku saat itu. Setiap pulang aku selalu memesan mie ayam, es
krim, burger, rujak es krim ataupun jajan lainnya kepada bapak ketika menjemput
ibu pulang. Isi kulkas selalu penuh ketika ibu pulang.
Namun berbeda Sabtu hari itu. Aku
terlalu sibuk dengan kegiatanku di kampus hingga tidak sempat menghabiskan
waktu dengan ibu, bahkan kegaiatanku selesai minggu sore. Ketika aku pulang,
ibu ada dirumah budhe ku, ketika ibu pulang aku sudah terlelap tidur dan pagi
harinya subuh subuh ibu sudah harus berangkat lagi mengajar. Aku belum sempat
bertemu dengannya kala itu terkadang aku menyesali saat saat itu. Karna saat
itu ternyata adalah saat aku terakhir bertemu dengan ibu, tepat hari Selasa
Allah memanggil ibu. Hancur hatiku saat itu, seperti kehilangan arah. Satu tahun
pertama adalah satu tahun terberat buatku, setiap kali aku merasa kehilangan
sebagian dari duniaku dan tak kunjung kembali. Merasa menjadi manusia paling
menyedihkan didunia, susah untukku bangkit kala itu. Menyalahkan keadaan
termasuk diriku sendiri.
Namun sekarang aku jauh menjadi
jauh lebih baik. Aku mulai terbiasa dengan keadaan, menerima dan mengikhlaskan
segalanya. Oh ya telur ceplok bapak juga jauh lebih nikmat, sesekali aku
tambahkan kecap saat memakannya dengan nasi hangat. Sekarang bapak tidak lagi
kepasar dan memasak, melainkan aku yang menggantikannya. Aku memerankan sosok
ibu rumah tangga dalam keluargaku karena memang hanya aku wanita satu satunya
saat itu. Karena sudah belajar peran sejak dulu aku jadi bisa terbiasa
memainkan peran dengan cepat. Dan inilah aku sekarang mencoba menjadi manusia
lebih baik dengan peran baruku saat ini.

Komentar
Posting Komentar